Cerita ke Jepang: keluarga Safina dan Ferdy Hasan

0
2351

Keluarga kami sudah ke Jepang sebelumya, tapi selama ini belum sampai ke Hiroshima. Walau kita semua ingin ke Hirosima, tapi selalu berhalangan. Kenapa kita pengen banget? Kebetulan, kakek saya (dari sisi papa) adalah salah satu orang yang berhasil selamat dari serangan bom atom Amerika di Hiroshima tahun 1945. Beliau selalu ingin membawa kami ke Hiroshima. Namun sayang tidak dapat terwujud karena beliau meninggal dunia 2 tahun lalu.

Jadi tujuan kami kali ini ke sana bukan hanya untuk menjadi turis, tetapi juga mau belajar lebih banyak tentang sejarah masa perang dan mengerti lebih jauh kondisi kakek saat bom tersebut jatuh.

A must know website when you travel around Japan!

Nah, di keluargaku, akulah yang selalu diandalkan untuk memesan segala macem, termasuk tiket dan akomodasi. Awalnya sempat bingung dan bertanya sana-sini. Terutama untuk melihat jadwal kereta di sana.

Akhirnya om Daddo, teman papa dan mama yang sering banget ke Jepang, menyarankan saya untuk melihat situs hyperdia.com. Situs ini ternyata mudah banget digunakan. Di hyperdia kita bisa memilih jam berangkat, mau lewat stasiun mana, atau hanya satu mode transportasi (websitenya juga bisa digunakan untuk perjalanan bis, dll).

Karena sudah punya JR pass, jadi kami memilih untuk menggunakan kereta Shinkansen. Kebetulan waktu itu kami sekeluarga sampainya malam. Jadi, langsung ke apartment dan TEPAR. Hahaha.

We had a full day ahead of us tomorrow

Transportasi keliling kota yang dipakai di Hiroshima adalah tram. Ada JR line tetapi tidak menjangkau daerah park dan tujuan utama kami.

WARNING though: Tram di sini tidak semua wheelchair accessible alias TANGGA. Kita masuk lewat pintu belakang dan keluar lewat pintu depan. Bayarnya langsung ke supir di depan.

Hiroshima kota kecil, jadi kami bisa bkeliling kota seharian penuh. Bahkan kami juga sempat naik kapal ke pulau di sebrang Miyajima (salah satu UNESCO World Heritage site) dan kembali ke kota sekitar jam 8.

Karena kakek dulu sekolah di sini dan memiliki banyak hubungan di Jepang, jadi keluarga kami diantar keliling oleh representasi dari Universitas Hiroshima langsung.

Kami sendiri kurang tahu tentang tour di kota ini. Waktu cari informasi kemarin, (kalau tidak salah) setiap hari (kecuali hari Minggu) ada tour untuk Hiroshima Peace Park, tujuan utama di kotanya sendiri. But you should double check on that.

 

A-Bomb Dome

Kami mulai perjalanan di A-Bomb Dome. Kalau belajar sejarah, pasti pernah lihat foto gedung ini. Karena dekat sekali dengan pusat jatuh bom atom, jadi yang tersisa hanya kerangka. But it has a serious impact when you see it yourself! Gedung ini menjadi simbol untuk mengingatkan pendatang tentang bom yang jatuh dulu.

A-Bomb Dome letaknya dekat dengan sungai. Once in a while bisa terlihat kapal bulat, lucu banget.

Hiroshima Children’s Peace Memorial

Masih di dalam Peace Park, ada monumen anak-anak yang didedikasikan untuk sosok Sadako, salah satu korban bom atom yang meninggal di usia 12 tahun karena efek radiasi bom yang tertunda. Sadako masih balita saat bom jatuh. Ia tumbuh sehat, sampai akhirnya sakit mendadak dan meninggal.

Di sini kami belajar bahwa tidak semua korban terkena efek bom secara langsung. Banyak yang setelah sekian tahun baru muncul, seperti pecahan kaca yang keluar setelah kulit membengkak secara tiba-tiba atau kanker.

Peace Park sendiri tadinya adalah pusat politik dan komersil kota Hiroshima. Namun 4 hari setelah bom jatuh, aparat setempat memutuskan untuk tidak bangun ulang tetapi dijadikan tempat untuk fasilitas gerakan perdamaian. Oleh karena itu, terlihat beda sekali dengan kota yang mengelilinginya.

Peace Memorial Museum

Kami kemudian terus berjalan ke arah Peace Memorial Museum. Melewati monument lain di mana beberapa waktu lalu Presiden Obama datang dan memberi pidato.

Pak Hirano (yang membawa kami berkeliling) menunjukkan foto-foto kakek saat berkunjung ke Peace Park dulu. Sekarang ramai orang antri memberi doa dan bunga untuk mengenang para korban bom.

Pak Hirano juga memberikan selembar kertas dimana terdapat nama-nama pelajar Asia Tenggara lain yang menjadi korban bom. Diantaranya kakak ipar kakek, Muskarna Sastranegara yang kemudian mengenalkan kakek Hasan Rahaya ke nenek Susy.

Saya sangat merekomendasikan museum ini. Tapi, kalau bawa anak kecil, jangan deh. Serem soalnya. Di sana bisa melihat patung lilin yang menunjukkan bagaimana kondisi orang yang terkena bom secara langsung, dan apa yang terjadi kepada mereka kemudian.

Ternyata banyak korban yang terbakar hangus, tidak tersisa dan tidak bisa ditemukan. Banyak keluarga yang tidak sempat mengenali anggota keluarga mereka. Walau seperti itu, semua tercatat dengan rapih. Pokoknya serem deh. But very informative and worth the nightmares, promise.

Pemandangan Hiroshima dari Hotel Sunroute

Sekarang kami sadar, sebetapa dekatnya kakek dari bom atom. Alhamdulillah, kakek sampai tua sangat sehat. Gedung di daerah beliau berada saat bom jatuh, terbakar habis. Kami makin tidak sabar untuk dibawa ke tempat itu.

Tapi sebelumnya, kami diajak makan di restoran Viale di Hotel Sunroute. Pemandangan kota Hiroshima dari gedung ini cantik sekali. Kami mganmbil gambar (foto) banyak sekali di sini.

Makanannya Italian style, mix antara buffet dan a la carte. Kami memilih makan ikan. Daerah Hiroshima terkenal dengan seafood mereka. (Also try their twist on Okonomiyaki)

Asrama kakek dan pelajar Asia Tenggara

Dari hotel kita berjalan kaki ke lokasi di mana dulu berdiri asrama kakek dan pelajar lain. Sekarang sudah menjadi gedung SMA. Di depan gedung tersebut ada monumen yang menunjukkan foto sebagian pelajar Asia Tenggara yang dulu tinggal di situ, termasuk kakek Muskarna.

Walaupun tidak ada di foto, nama kakek Hasan ditulis di papan kedua dari kanan. Tertulis sebagai DPD dari Indonesia. Papan yang lain terdapat nama-nama korban lain dari Malaysia, Brunei dan Filipina. Semuanya menjadi orang sukses lho!

Persis di seberang asrama, ada sungai dan jembatan di mana kakek menyelamatkan diri dari panasnya bom dan udara hari itu. Kakek berdiam di situ cukup lama. Bernafas menggunakan bambu. Mungkin karena itu kakek selamat.

Panas saat itu sampai ratusan Celsius. Belum lagi waktu itu adalah puncak musim panas di Jepang. Kami bener-bener tidak dapat membayangkan seperti apa rasanya. Ia sangat beruntung. Kakek Hasan diceritakan, juga membantu banyak temannya untuk menyelamatkan diri.

Berbeda dengan kakek Hasan, Kakek Muskarna pada saat bom jatuh berada cukup jauh dari tengah kota sehingga beliau selamat.

Di Universitas Hiroshima

Kami meneruskan perjalanan menggunakan tram ke tempat berdirinya Universitas Hiroshima dulu. Sekarang yang tersisa hanya gedung utama sekolah. Sedangkan sekitarnya sudah dijadikan taman. Kabarnya, sebentar lagi akan dibongkar. Kami beruntung masih sempat melihat.

Saat bom jatuh Kakek sedang di kelas. Kami kembali diberi lembaran kertas yang menunjukkan kondisi kelas tersebut. Guru kakek langsung meninggal di tempat karena tertimpa piano, tapi kakek dan teman baiknya selamat dari reruntuhan gedung karena berlindung di bawah piano yang sama. Gedungnya sekarang sudah tidak ada.

Pulau Miyajima

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dan kami sudah selesai tour. Mba Pipin, salah satu yang mengantar kita di Hiroshima, memberi tahu tentang Miyajima. Katanya, menyesal kalau tidak ke sana.

Untung akhirnya kami memilih untuk langsung ke sana. So worth it. Cantik banget!

Ada beberapa pilihan yang bisa digunakan menuju Miyajima. Bisa naik kapal ferry dari tengah kota, dekat peace park atau dari terminal ferry JR. Kami memilih untuk berangkat dari tengah kota. Di pulau ini mudah untuk dikelilingi dan tersedia banyak map. Banyak yang bisa dilihat, tapi yang utama adalah shrine yang terapung di atas air.

Di sini juga banyak rusa. Mereka berjalan bebas, tapi hobinya makan kertas. Jadi perhatikan map atau brosur yang dipegang, selain makanan di kantongan. Hahaha.

Jalan pulang, kami menggunakan JR ferry. Lalu pakai kereta JR ke stasiun Yokogawa, sebelum naik tram kembali ke arah tempat tinggal kamik.

Tetapi rute ini makan waktu lebih banyak daripada ferry yang langsung. Positifnya, ferry terakhir lebih malam. Ferry direct ke tengah kota terakhir kalau tidak salah jam 5. However, by 6 semua juga udah tutup di pulaunya, termasuk Itsukushima Shrine yang sangat cantik.

We enjoyed a beautiful sunset and a view of Hiroshima on our ferry ride back:

Akomodasi kita waktu itu dekat dengan tram station Funairi-hon-machi. Papa gak sengaja lihat ada keramaian dekat situ, ternyata pas banget lagi ada semacam pesta rakyat. Jadi kita makan malam di situ.

We had a full day, did loads of things, so we were exhausted by then, but it was absolutely amazing! It’s quite far from Tokyo, tapi kalau sudah di Osaka atau Kyoto, udah deket kok.

One full day sudah cukup untuk keliling kota. Yang tidak boleh ketinggalan, Miyajima.

For us it was extra special karena dapat kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang kakek dan kita girang banget. Totally worth the visit. A trip we won’t forget.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.