Naik kereta api tut.. tut.. ke Little Netherland

3
8551
Pemberhentian terakhir stasiun KA Tawang berada di daerah kota tua/lama Semarang

Weekend awal September lalu, kami pergi berlibur ke Semarang. Selain ada acara keluarga, sekalian juga mengenalkan kota Semarang ke anak-anak, secara leluhur kami berasal dari kota ini.

“Begini lho, ayahmu dulu pulang kampoeng lebaranan waktu kecil” kata Kakeknya anak-anak.

Sengaja juga kami pergi menggunakan kereta api, secara ini pengalaman pertama my kids naik KA (Kereta Api). Kami juga mencoba booking tiket via online melalui website PT Kereta Api Indonesia (www.kereta-api.co.id) Ternyata cepat sekali prosesnya. Setelah Anda membooking tiket, maksimum 3 jam kemudian tiket harus dibayar lunas bisa melalui ATM atau Indomart/AlfaMart terdekat. Anda akan menerima bukti pembayaran, lalu bawa bukti pembayaran tersebut ke stasiun Gambir untuk ditukar tiket asli, paling telat 1 jam sebelum keberangkatan. Oya, tiket online ini sudah bisa dipesan sejak 90 hari sebelum tanggal keberangkatan.

Naik kereta api, mudah banget.

Stasiun KA Gambir Jakarta

Stasiun KA Gambir Jakarta

Kami memilih jadwal kereta api pagi dan sampai di Semarang siang hari (perjalanan sekitar 6,5 jam). Anak-anak bisa melihat pemandangan pulau Jawa sepanjang pantura, sawah membentang luas. Apalagi saat jalan kereta menyisir pinggir pantai setelah kota Pemalang, dasyat sekali, serasa kereta melayang diatas ombak.

Benar-benar pengalaman yang “asyik banget Ayah! Naik kereta api lagi yukk..” komen si jagoan kecil.

Perjalanan sekitar 6,5 jam dan anak-anak bisa menikmati pemandangan pulau Jawa sepanjang pantura. Apalagi saat jalan kereta menyisir pinggir pantai setelah kota Pemalang.

Stasiun KA Tawang Semarang

Sesampai di Semarang, pemberhentian terakhir stasiun KA Tawang berada di daerah kota tua/lama Semarang, perjalanan ke hotel melewati beberapa tempat gedung kuno yang memiliki design eropa kolonial yang sangat kental.

Pemberhentian terakhir stasiun KA Tawang berada di daerah kota tua/lama Semarang

Toko Oen

Sorenya kami menggunakan becak dari hotel ke salah satu restoran tempo doeloe yang masih eksis sampai sekarang. Yaitu Toko Oen buka semenjak tahun 1936, nostalgia waktu kecil diajak orang tua ke sini. Dulu Toko Oen juga buka di Jakarta, tetapi sekarang sudah tutup, yang masih buka salah satunya di kota Malang. Saat kami duduk, masuk beberapa wisatawan Belanda bernostalgia juga di toko ini.

Toko Oen buka semenjak tahun 1936, nostalgia waktu kecil diajak orang tua kesini
Beberapa wisatawan Belanda bernostalgia juga di toko ini.

Bubur Ayam dan Crepes ala Semarang

Esok paginya, kami mencoba sarapan bubur ayam di sebelah Gelanggang Olah Raga Tri Lomba Juang dekat jalan Pandanaran. Rasa dan isi bubur ayam yang dijual berbeda dari bubur ayam yang biasa dijual di Jakarta, ada telur pindang dan ikan terinya. Selain itu ada juga crepes model sepedaan, unik sekali cara membuat crepes ini dibelakang sepeda ini. Kamipun terpana melihat proses pembuatannya, makin kagum setelah memakannya, rasanya tidak kalah lho dari crepes yang dijual di mall-mall. Habis banyak deh crepes ini dilahap my kids.

Sarapan bubur ayam di sebelah Gelanggang Olah Raga Tri Lomba Juang dekat jalan Pandanaran

Museum KA Lawang Sewu

Setelah itu kami mengunjungi salah satu icon kota Semarang, museum KA Lawang Sewu. Bangunan ini sudah dipugar dan dijadikan museum KA. Bangunan yang terkenal karena banyaknya pintu ini, di dalamnya juga terdapat foto-foto sejarah kereta api di Indonesia, dari proses pembangunan rel kereta api sampai kereta modern sekarang. Semarang memang kota pusatnya Kereta Api Indonesia.

museum KA Lawang Sewu, Semarang
Sejarah kereta api di Indonesia, dari proses pembangunan rel kereta api sampai kereta modern.

Kota Lama Semarang, Little Netherlands

Siangnya kami lunch di kota lama dengan deretan bangunan seperti di Amsterdam, makanya kota lama Semarang sering disebut litte Netherland. Serasa meneer-meneer Londo sedang jalan-jalan.. “goedemiddag.. Selamat siang..”.

Gereja Bleduk

Icon di kota lama ini adalah Gereja Bleduk, sama seperti Gereja di depan stasiun KA Gambir Jakarta. Lalu ada restoran Ikan Bakar Cianjur yang menempati salah satu bangunan kuno yang sudah dipugar juga diseberangnya. Suasana yang sama seperti daerah kota lama di Jakarta. Beberapa gedung kuno lainnya antara lain gedung Marabunta yang ada patung semut besar di atapnya, gedung PT. Pos Indonesia, dan pasar Johar hasil design dari arsitek Belanda terkenal Thomas Karsten tahun 1933. Yuk.. mari dukung pelestarian bangunan kuno ini bagi pariwisata Indonesia.

Pelabuhan Tanjung Emas

Dari kota lama, kami melihat pelabuhan Tanjung Mas, tak jauh dari sana. Salah satu pelabuhan terkenal dari jaman Belanda. Setelah dari pelabuhan, kembali kami jalan menuju tengah kota melihat Simpang Lima (lapangan icon nya Semarang), kemudian menuju Candi, kawasan ‘puncak’ nya kota Semarang. Kita bisa melihat kota Semarang sampai laut, dari kawasan ini.

Tanjung Mas, salah satu pelabuhan terkenal dari jaman Belanda.

Tak terasa hari sudah mulai sore, perjalanan ke Kuil Sam Pho Kong, candi Gedong Songo dan Museum Jateng Ronggowarsito terpaksa kami tunda karena kami harus segera kembali ke Jakarta. Semarang I’ll be back. Tut.. Tut.. Tut.. Siapa hendak turut?

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.