Perjalanan ke Laos: Luang Prabang

0
3816
photo: Daniel Marchal

Hujan mengiringi perjalanan malam saya dari Vientiane ke Luang Prabang. Dari bis VIP ber-AC yang tidak terlalu penuh penumpang, tidak terlihat pemandangan Laos – negara termiskin di wilayah Asia Tenggara yang bersama Vietnam dan Kamboja pernah berubah menjadi ladang pembantaian dalam perang Indochina. Karena gelap, di luar jendela bis, perjalanan yang menempuh 11 jam tidak memberikan kesan sisa-sisa kerusakan akibat perang yang menewaskan jutaan manusia mati sia-sia.

Luang Prabang

Hari masih gelap sesampai saya di Luang Prabang. Hujan yang belum berhenti seperti memberi ucapan selamat datang di kota tua yang tertata dengan baik, dan merawat “ketuaanya” dengan sepenuh hati. Saya pinjam payung dari ibu pemilik Choumkong guesthouse yang diklaim buku Lonely Planet sebagai yang mempunyai kloset terbersih di seluruh kota. Pagi itu saya mulai dengan minum mix juice di cafe tepi sungai Mekong.

View of the Mekong before sunset.

Seiring hujan yang mereda, sinar matahari mulai menombaki meja-meja deretan café sepanjang sungai yang menerobos dari celah-celah dedaunan. Lamat-lamat mulai tampak fisik kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan jaman monarki. Dihadapan saya terbentang pemandangan menawan: bangunan beraroma kolonial Perancis yang menjadi restoran dan guesthouse, bergantian menyembul dengan biara-biara tua buddhist dengan arsitektur khas Indochina. Mulai banyak orang lalu-lalang memikul keranjang. Sambil tersenyum, terkadang disertai anggukan kepala atau badan merunduk serta telapak tangan terkatup di depan dada sebagai tanda hormat, mereka menyapa: “sabaii-dii, sabaii-dii…”. Saya tersadar bahwa Luang Prabang yang menjadi tujuan utama datang ke Laos seperti menyilakan saya untuk segera dieksplorasi.

Menyusuri sedikit jalan di pinggir sungai, saya berbelok melalui jalan kecil yang tersusun dari batu bata merah untuk masuk ke Royal Palace Museum, sebuah museum yang memiliki kebun bunga asri dan luas, tempat dulu pusat kekuasaan monorki berjalan. Sejak memasuki halaman, sudah terasa bahwa bangunan itu menyimpan sisa kemegahan masa lalu. Arsitekurnya adalah paduan antara motif tradisional Laos dan bergaya seni Perancis. Setelah membayar tiket sebesar 30.000 kip (1 US$ = 8.500 kip), saya mulai menyambangi setiap ruang tempat dimana raja-raja Loas dulu tinggal sebelum mengungsi atas desakan Pathet Lao, sayap militer perjuangan rakyat Loas berhaluan Marxist yang semakin kuat pada dekade 70-an.

Tepat di tengah bangunan utama adalah singgasana raja yang terbuat dari emas. Dengan tetap memberikan kedudukan terhormat pada pendeta buddhist sebagai penasihat spiritual, ada meja tempat duduk pendeta yang sedikit lebih rendah dan diletakkan hanya beberapa langkah dari kursi raja. Selain kamar tidur keluarga raja, sebagian besar ruangan adalah tempat menyimpan benda-benda peninggalan dinasti kerajaan selama berkuasa, seperti pada umumnya alihfungsi istana yang telah dibuka untuk publik pariwisata di masa demokrasi modern menggantikan raja-raja. Bagi masyarakat lokal museum ini adalah bangunan yang menyeramkan. Mereka mempercayai sering terjadi penampakkan arwah keluarga raja.

The Royal Palace in Luang Prabang
The front view of the palace

Masih dalam kompleks istana, di bangunan yang terpisah bagian belakang adalah tempat menyimpan koleksi mobil-mobil raja dengan tahun pembuatan yang paling baru adalah Crysler tahun 1965. Ada empat mobil semuanya dengan peruntukan yang berbeda. Hampir sejajar dengan museum mobil, di bangunan yang lain adalah function hall yang ketika saya kunjungi sedang berlangsung pameran foto hitam putih karya fotografer dari Perancis tentang kehidupan rahib buddhist dalam biara.

Sambil mencari makan siang hari, saya menyusuri jalan utama yang pararel dengan sungai Mekong. Pengaruh Perancis yang pernah berkuasan di Indochina ini masih terasa dengan kuat. Setiap memasuki jalan baru, akan tertulis kata rue di penunjuk nama jalan yang artinya jalan dalam bahasa Perancis. Dari bangunan, utamanya untuk restoran dan menjual kerajinan, aroma Perancis masih kental tercium. Demikian juga makanan, akan dengan mudah sekali mendapatkan baguette, roti panjang khas Perancis. Di restoran kecil depan vihara Wat Xieng Thong yang dipenuhi penduduk lokal saya makan noodle soup dengan porsi yang jumbo. Selesai makan saya segera memasuki kompleks vihara yang dibangun pada 1560. Walaupun berusia hampir 500 tahun, namun vihara ini masih berdiri dengan kokoh, termasuk juga fresco atau mural yang merepresentasikan ajaran Buddha di dinding dan langit-langit, masih nyata terlihat. Bukan hanya dhammasala, bangunan utama untuk meditasi dan persembahyangan yang terawat dengan baik, namun bangunan lain di dalam kompleks, seperti kuti atau tempat tinggal bhikku, pendeta dan rahib juga masih asri dan bersih. Terik matahari menggiring saya untuk mencari keteduhan di bawah rindang pohon bodhi di depan dhammasala sambil mengagumi keindahan bangunan yang terawat baik di hadapan saya itu, atau bergantian duduk di bawah atap vihara sambil memandangi daun-daun pohon bodhi yang bergerak oleh angin.

Wat Xieng Thong (or Temple of the Golden City)

Menjelang sore saya menapaki anak-anak tangga menuju vihara Phousy yang ada di puncak bukit. Dari seberang Royal Palace, anak tangga pertama bisa dimulai di pintu masuk ini, gratis. Pada anak tangga ke-105 baru ada petugas yang meminta membayar tiket sebesar 20.000 kip untuk sampai ke puncak bukit. Viharanya ada di atas tanah datar yang tidak terlalu luas, setelah kita menyelesaikan anak tangga yang berjumlah 300. Rasa lelah dan kesal menaiki bukit, segera terbayar oleh pemandangan indah seluruh kota. Susunan atap biara-biara yang selalu berjumlah ganjil, umumnya tiga atau lima, memberi impresi yang sangat menarik bila dilihat dari atas dan di kejauhan. Di halaman vihara ini kita akan mendengar beragam bahasa yang dituturkan pengunjung yang datang dari bermacam bangsa. Mereka sama-sama menanti matahari tenggelam. Udara sedikit mulai dingin oleh hembusan angin. Tidak ada peristiwa dramatis, tapi sekadar terpesona pada hal ihwal di sekitar kita, bahkan pada yang remeh-temeh.

Sebelum gelap menghalangi jalan turun, saya menapaki anak tangga menuju pasar malam di sepanjang jalan di bawah bukit Phousy ini. Sesampai di bawah, seluruh badan jalan sudah dipenuhi lapak-lapak barang dagangan, hanya menyisakan selebar badan orang untuk berjalan. Pasar malam sifatnya seperti festival, mempertemukan beragam latar belakang juga kepentingan, antara penjual dan pembeli, turis berduit pemborong cendera mata, pengelana miskin seperti saya, backpackers yang sekadar ingin tahu, tentu ada fotografer pemburu momen, ada juga penjudi yang beradu permainan ketangkasan, tapi yang jelas semua ingin kegembiraan. Tidak hanya di badan jalan, lapak juga merambah masuk ke halaman kompleks biara di sekitar istana. Para rahib buddhist tidak ketinggalan membuka stand untuk sekadar mendapatkan donasi. Di gang sedikit becek dan dipenuhi oleh pedagang makanan, saya menyantap dengan nikmat ikan bakar bersama Lao vegetable salad dan sedikit ketan, serta menutup makan malam dengan sebotol kecil beer lao, salah satu beer yang paling enak yang pernah saya minum. Makanan asli Laos pada umumnya hampir mirip rasanya dengan makanan Vietnam atau Thailand. Demikian juga cara penyajiannya.

Monks collecting alms at dawn in Luang Prabang

Pagi berikutnya, jam lima dini hari saya sudah menunggu di pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi pindapata, ketika 325 pendeta dan rahib buddha yang masih muda-muda, dengan jubah warna kuning kunyit separuh bahu terbuka berjalan mengumpulkan derma makanan dari penduduk. Di pinggir jalan, kaum perempuan sudah menunggu dengan keranjang berisi ketan untuk diisi ke mangkuk-mangkuk metal yang dibawa orang-orang suci tersebut. Dalam diam dan langkah yang pelan, mereka para rahib buddha mendapat makan untuk konsumsi sampai siang hari, begitu setiap harinya. Prosesi itu dimulai dari Wat Xie Thong menyusuri jalan utama ke arah Royal Palace dan kembali ke biara melewati jalan lain yang paralel dengan sungai Mekong. Saya pikir tidak salah kalau UNESCO memasukkan Luang Prabang masuk dalam daftar warisan dunia.

Sambil jalan kembali menuju guesthouse, saya berhenti pada satu rumah yang pemiliknya, seorang ibu tua yang masih menyisakan garis kecantikannya sedang membeli panganan dari pedagang keliling. Banyak sekali makanan yang dijual itu sama persis dengan kue jajan pasar daerah Jawa: ketan hitam yang ditaburi kelapa parut dan gula pasir, ongol-ongol, gemblong, dan kue lapis pandan. Dengan bahasa Perancis saya yang sudah banyak lupa, saya berbincang dengan ibu itu untuk dapat membantu dalam berbelanja untuk sarapan pagi saya. Kue jajan pasar itu saya bawa ke warung angkringan di pasar pinggir sungai dekat kapal-kapal ditambatkan. Warung itu menjual kopi dan teh serta makanan ringan. Seperti di Thailand dan Vietnam, cara menyajikan kopinya dengan menuangkan kopi kental yang telah diseduh dengan air panas terlebih dahulu ke dalam gelas yang berisi susu kental manis. Mantab sekali rasanya sarapan pagi saya itu sebagai bekal energi mulai melakukan tour kreasi sendiri dengan sepeda yang saya sewa dari pemilik guesthouse mengunjungi kampung-kampung dan keluar-masuk pasar mencoba keh-kueh khas lokal yang belum pernah saya rasakan, melihat-lihat anak sekolah bermain, juga vihara-vihara yang ada di luar pusat kota.

Saya tujukan kayuhan sepeda untuk mencapai vihara dengan stupa emas yang tampak cukup jauh dari bukit Phousy itu. Melewati kampung dan pasar, sering saya lihat, perempuan Laos melakukan menicure dan pedicure di banyak tempat oleh terapis yang memberikan jasanya dengan berkeliling. Di vihara stupa emas saya bertemu dua orang Italia, Valentina dan Daniela yang kemudian mengajak bersama-sama ke gua Pak Ou selepas makan siang.

Near Pak Ou the Tham Ting and the Tham Theung are caves overlooking the Mekong River, 25 km to the north of Luang Prabang, Laos.

Bersama juga satu kawan dari Indonesia, kami berempat menyewa perahu menuju gua. Dua jam melawan arus menyusuri sungai Mekong. Teringat film-film perang Vietnam buatan Amerika: tentara Amerika yang sedang potroli sungai, ditembaki gerilya Vietcong dari semak-semak tepian sungai, tapi toh tentara di perahu yang hanya beberapa orang dapat membunuh ratusan gerilyawan. Di tengah perjalanan kami mengunjungi desa yang terkenal kepandaianya dalam membuat arak, Ban Xang Hai. Tidak disangka-sangka di gua yang tidak terlalu besar ini tersimpan patung Buddha dalam berbagai posisi yang berjumlah ribuan. Menjelang petang kami kembali ke Luang Prabang. Dan malam itu saya tutup dengan mengulangi “ritual” malam sebelumnya di pasar malam: sekadar jalan bersama orang yang berjejalan membeli souvenir, dan makan ikan bakar di gang becek dengan makanan penutup: kue lapis pandan hijau dan gemblong, tepung beras ketan berlumur gula jawa, hmmm…yummy…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.