Yogya-Magelang-Solo Dalam Tiga Hari

0
5179
Taman Sari

Sewaktu kecil orangtua saya membawa saya bersaudara keliling Jawa Tengah melalui perjalanan darat (road trip). Sampai sekarang pengalaman itu sangat berkesan bagi saya dan meskipun kini anak-anak saya belum seberuntung itu menikmati perjalanan darat keliling Jawa Tengah; saya mencoba mengenalkan mereka pada secuplik kecil obyek wisata di Indonesia yang berlokasi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Yogyakarta

Kami sekeluarga sampai di Yogya jam 7 pagi dan langsung menuju gudeg Yu Djum di Kaliurang untuk sarapan. Perjalanan ditempuh kurang dari 20 menit dan sebelum jam 08.00 pagi kami sudah menghadapi sepiring nasi gudeg yang mengepul hangat.

Nasi Gudeg Yu Djum

Selepas berjalan-jalan kami mengikuti saran seorang teman yang lama bermukim di Yogya untuk makan di restoran India di daerah Kaliurang yang bernama Sangam.  Perjalanan yang ditempuh dari Keraton dan Taman Sari kira-kira empatpuluh menit. Restoran Sangam rupanya jadi satu dengan tempat yoga yang bernama sama dan sekaligus menjual aneka pernik serta asesoris khas India.

Hidangan di Sangam  ternyata merupakan selingan yang sangat cocok mengingat beberapa hari ke depan alternatif masakan selain nasi minim. Kami sangat menikmati Chapati (roti India), kari kambing dan ayam; namun sayangnya chicken tandoori dan Naan di Sangam baru tersedia lewat dari jam 18.00 petang.

Di Yogya kami menginap di Hotel Phoenix yang berlokasi di jalan Jend Sudirman; tidak jauh dari Malioboro. Seharusnya saya bisa bercerita lebih banyak bila saja menginap lebih lama di Phoenix dan menikmati lebih banyak fasilitas; namun sayangnya tidak. Namun menurut hemat saya, hotel sekelas Phoenix akan lebih baik bila bentuk dan ukuran kolam renangnya lebih imajinatif.

Kolam Renang Hotel Phoenix

Selama di Yogya kami menyempatkan diri membeli oleh-oleh di Toko Mirota yang berlokasi di Malioboro. Pemosisian Mirota ini mirip dengan Toko Kresna di Bali; semua jenis oleh-oleh tersedia sehingga cocok buat mereka yang waktunya terbatas.

Selain makan siang di Sangam; kami mencoba steak di R & B Grill yang berlokasi di Wolter Monginsidi. Lagi-lagi aneh juga makan steak di Yogya tapi sekali lagi bagi kami pengalaman seperti ini yang malah seru; makan masakan India di Yogya, membeli asesoris gadget di Magelang sampai makan rib eye steak di Yogya. Steak di R & B Grill tidak terlalu istimewa memang namun bagi mereka yang mencari steak pantas di Yogya; memang hanya di R & B Grill. Yang khusus juga adalah supermarketnya yang banyak menyediakan barang-barang impor; sandingannya di Jakarta mungkin Ranch Market atau Kem Chick’s.

Ide untuk sarapan pagi nasi gudeg panas lengkap selalu lebih baik dibanding menu sarapan hotel manapun di Yogya. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu berbelanja oleh-oleh dan batik, cukup mampir di Mirota Malioboro.

Museum Ullen Sentalu, Kaliurang

Kami sangat merekomendasikan Museum Ullen Sentalu karena sifatnya yang ‘all-in’  sangat bermanfaat bagi anak-anak usia sekolah belajar sejarah Indonesia; terutama mengapa sampai ada empat kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Buat anak-anak perempuan, menurut hemat kami, pengetahuan mengenai bagaimana putri-putri sebenarnya hidup di lingkungan keraton Jawa bisa menjadi pembanding yang dengan apa yang mereka tonton selama ini di fiksi. Keunggulan Ullen Sentalu bukan pada kekayaan koleksinya melainkan pada kemampuannya untuk menghidupkan imajinasi pengunjung mengenai kehidupan penghuni keraton Yogya dan Solo di masa lalu; suatu hal langka di museum-museum Indonesia.

Satu hal positif lagi di Ullen Sentalu, mirip dengan keraton Yogya, adalah adanya pemandu wisata yang mendampingi per kelompok pengunjung museum; termasuk harga tiket Rp. 25.000 per orang. Pemandu wisata kami sangat antusias menceritakan kehidupan para bangsawan penghuni empat keraton Jawa sambil menyentuh sisi-sisi manusiawi seperti kegalauan seorang putri sampai kebingungan para raja memilih permaisuri.

Kami memutuskan untuk makan siang di restoran Beukenhof yang berada dalam kompleks Ullen Sentalu. Hidangannya tidak terlalu istimewa tapi cukup baik sebagai selingan khususnya bagi anak-anak yang terbiasa menyantap hidangan barat. Rata-rata harga makanannya masih di bawah ‘harga Jakarta’ bahkan Bandung.

Keraton Yogya dan Taman Sari

Di Keraton Yogya rupanya pembayaran tiket masuk (harus membayar tambahan bila hendak foto-foto meski sangat terjangkau) sudah termasuk jasa pemandu wisata. Hal ini baik sekali menurut saya karena jadinya sangat memudahkan pengunjung.

Untuk membuat anak-anak tertarik pada Keraton Yogya, trik yang saya gunakan adalah this is how kings and queens lived in our country; mengaitkan dengan pengetahuan mereka dengan kehidupan kebangsawanan khas budaya pop Barat.  Sesudah dari Keraton Yogya kami menuju ke tempat pemandian Sultan Yogya beserta para selir pada masa lalu. Pendekatan yang kami gunakan ke anak-anak untuk memancing antusiasme ketika itu adalah: yang diijinkan mandi-mandi di Taman Sari itu hanya para putri dan raja/ratu sehingga mereka sebagai rakyat biasa sangat beruntung untuk bisa melihat-lihat ke dalam  Taman Sari.

Taman Sari

Sedikit detour  dari Taman Sari kami mengunjungi lorong yang konon digunakan Pangeran Diponegoro untuk bersembunyi selama Perang Diponegoro (akurasi info ini tentu saja tetap harus dipertanyakan) dan musala yang digunakan Sultan untuk shalat. Anak-anak sangat tertarik dengan terowongan ini karena musala yang dimaksud mirip merupakan ceruk terbuka mirip setting film The Immortals.

Borobudur dan Prambanan

Kami menginap di hotel Saraswati yang hanya beberapa langkah dari Borobudur. Untuk makan malam kami mengandalkan saran dari warga sekitar untuk menikmati bakmi Jawa Pak Mul yang berada dekat hotel. Sama sekali tidak mengecewakan; bakmi kuah panas-panas cocok sekali untuk udara Borobudur yang dingin di daerah perbukitan.

Kedai Mie Godog Pak Min Borobudur, Magelang
Kedai Mie Godog Pak Min Borobudur, Magelang

Bagi mereka yang suka olahraga; bersepeda atau lari pagi keliling kompleks Borobudur sangat menyenangkan karena pintu masuk sudah dibuka sejak jam 6 pagi. Ada tur khusus bagi mereka yang ingin menunggu matahari terbit (sunrise) yang biasanya dikelola oleh hotel. Pagi itu kami sarapan ala kadarnya dan tiba di Borobudur kurang lebih jam 6.30 pagi

Uang masuk Rp.30.000 dan sebelum naik ke candi pengunjung diwajibkan untuk mengenakan sarung yang disediakan petugas. Petugas sigap memakaikan sarung sambil menganjurkan untuk sekedar membersihkan diri di keran karena Borobudur adalah ‘tempat ibadah’ umat Buddha. Bagi saya anjuran petugas tersebut sangat baik untuk menyetel sikap hormat pengunjung pada candi secara keseluruhan.

Beberapa langkah sebelum naik ke candi ada beberapa juru foto dan pemandu wisata menawarkan jasa mereka.  Kami setuju menggunakan jasa pemandu wisata (Rp.100.00 keliling Borobudur) dan juru foto (Rp.200.00 untuk 7 foto yang diambil seusai kita turun dari candi).  Terbukti pilihan kami tepat karena pemandu wisata kami yang bernama Pak Trisno cukup pas menerangkan maksud relief-relief di Borobudur yang disesuaikan dengan pemahaman anak-anak.  Sambil kami berkeliling;  jurufoto tiap sampai di tempat dengan sudut bagus untuk foto maka ia akan meminta kami berpose sejenak untuk diambil gambarnya. Betul, mirip sekali dengan jurufoto pribadi ala selebriti.

Sudut favorit foto di Borobudur
Salah satu sudut favorit foto di Borobudur

Turun dari Borobudur masih ada daya tarik lain yaitu menunggang gajah buat anak-anak. Sayangnya baru dibuka pukul 10.00 pagi sehingga kami memutuskan untuk sarapan di hotel agar anak-anak masih bisa renang sebentar sebelum meninggalkan Borobudur. Sarapan di hotel tempat kami menginap betul-betul minimalis; hanya tersedia mie goreng, nasi goreng, roti bakar, cereal serta egg station.

Kami tiba di Prambanan sore hari sehingga waktu eksplorasi kami di kompleks candi ini tidak seleluasa di Borobudur. Sepertinya bila hendak puas mengeksplorasi candi strategi yang paling tepat adalah tiba di lokasi sepagi mungkin; suatu hal yang mungkin menjadi tantangan di Prambanan ketimbang Borobudur. Beberapa menit bermobil dari Prambanan sebetulnya kita bisa mencapai kawasan Candi Ratu Boko yang konon indah saat matahari terbenam namun sayangnya waktu kami sudah terbatas sekali. Sebagai hiburan anak-anak yang gagal menunggangi gajah di Borobudur; mereka cukup terhibur dengan menaiki kuda tunggangan mengelilingi lapangan di Prambanan; cukup membayar Rp. 20 ribu.

Tips Borobudur dan Prambanan :

  1. Tiba paling pagi selalu lebih baik.
  2. Apabila anak-anak mulai bosan; manfaatkan semaksimal mungkin fasilitas pendukung seperti kuda tunggang, arena bermain sampai belanja murah meriah sekedar hiburan (catatan: seorang anak bisa dibekali uang Rp.20.000 dan sudah bisa membeli 10 gelang warna-warni)

Solo

Pilihan bermalam di Solo sebetulnya cukup banyak namun atas anjuran seorang kenalan saya memilih hotel Rumah Turi yang berlokasi di tengah kota Solo. Hotel in baru didirikan pada tahun 2008 dan diresmikan oleh Walikotanya (waktu itu) Joko Widodo yang kini menjabat sebagai gubernur DKI.

Pemandangan dari teras kamar hotel Rumah Turi
Pemandangan dari teras kamar hotel Rumah Turi

Rumah Turi menggunakan pendekatan minimalis dan eco-friendly; meskipun saya tidak menemukan kekhususan sendiri pada bagian ‘eco-friendly” ini namun Rumah Turi memiliki keistimewaannya sendiri. Cocok bagi mereka yang ingin menginap di tempat ‘rumahan’ namun tidak bernuansa tempo dulu. Sarapan di Rumah Turi sendiri terdiri dari nasi dengan lauk pauk dan roti bakar; namun kami memilih untuk mencari sarapan nasi liwet di sekitar hotel.

Pertengahan pagi itu kami habiskan bermobil keliling kota Solo dan keluar masuk toko batik di Laweyan. Bagi kami yang menarik adalah rata-rata di setiap toko batik di Solo memiliki ruang kerja dimana pengunjung bisa menyaksikan cara pembuatan batik, baik tulis maupun cetak.

Dari Laweyan kami menuju Warung Selat Solo Mbak Lies di daerah Serengan. Meski sudah melewati waktu makan siang, Warung Selat Solo Mbak Lies masih ramai oleh pengunjung. Warung ini menempati dua rumah yang lokasinya berhadapan di dalam gang; ada yang lesehan dan ada yang tidak. Kami memesan selat solo yang menggunakan lidah dan betapa senangnya rupanya keputusan itu tidak salah pilih!. Selat Solo Mbak Lies lebih istimewa dibanding selat solo di tempat lain karena di Mbak Lies ditambah dengan rajangan halus bawang merah sehingga lebih kaya citarasa yang tampil.

Tip

  1. Apabila sudah ada tujuan wisata kuliner di Solo, pastikan dulu jam bukanya; karena sering jam 17.00 atau malah jam 14.00 sudah tutup.
  2. Untuk membeli oleh-oleh berupa makanan dan waktu kita terbatas, cukup di Toko Orion yang berlokasi di Jl. Slamet Riyadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.