Medan, Berhari Minggu di Kesawan Square – Tjong A Fie Mansion

0
5103



Sebagian besar pengunjung Sumatra Utara memilih Danau Toba sebagai tujuan pariwisata, tapi sebenarnya, di dalam kota Medan sendiri ada beberapa tempat unik dan mendidik untuk menghabiskan hari Minggu bersama si kecil. Tujuan kita kali ini adalah Kesawan Square.

Kalau Anda bisa memulai perjalanan agak pagi, maka perjalanan anda bisa dimulai dari Tjong A Fie Mansion. Walaupun secara resmi Mansion ini berada di Jl. Ahmad Yani, tetapi sebagai penduduk lokal, saya lebih suka menyebutnya Jalan Kesawan (nama lamanya) karena sudah terlalu lama kawasan tersebut dikenal sebagai Jalan Kesawan, termasuk banyaknya sejarah Kota Medan yang terjadi di jalan Kesawan tersebut.

Halaman depan terasa kuno dan Luas

Di antara jajaran ruko yang mendominasi jalan Kesawan, pagar Tjong A Fie Mansion pasti membuat orang memalingkan leher.  Pagar tembok tinggi berwarna kuning dengan aksen kayu dan atap Cina disertai sepasang kaligrafi Cina besar yang terletak di kanan dan kiri gerbang pagar terlihat kontras.  Biasanya, sebelum masuk saja, beberapa menit sudah habis untuk berpose di depan pagar unik tersebut.  Seperti rumah-rumah jaman dahulu, halaman depan terasa sangat kuno, sekilas mengingatkan saya pada rumah kakek dan nenek saya di Bandung dulu.  Luas, dengan bagian rumput yang dibuat seperti lingkaran di tengah dan setengah lingkaran di bagian kanan dan kiri dengan jalur mobil diantara bagian bagian rumput tersebut.

Pohon besar dan rindang mengisi bagian kanan dan kiri, serta bunga warna warni di bagian tengah.  Anak-anak saya yang berusia 3 dan 6 tahun kontan berlarian di taman besar itu dan memerlukan beberapa menit sebelum mereka mau diajak masuk.  Dari taman, sudah terlihat jelas luasnya bangunan Tjong A Fie Mansion ini. Bangunan ini bertingkat dua dengan bagian tengah terlihat lebih besar dibandingkan bagian kanan dan kirinya jendela di bagian tengah, pintu masuk.  Arsitekturnya campuran antara pilar bulat tinggi gaya Eropa, jeruji khas Melayu dan ukiran ukiran Cina.

Saya kira, Tjong A Fie ini seperti museum lain pada umumnya, dimana pengunjung masuk, melihat-lihat koleksi museum berdasarkan keterangan di bawah lukisan atau menyewa audio guide. Tapi di Tjong A Fie Mansion, setiap pengunjung akan ditemani oleh seorang guide jadi semua pertanyaan bisa dijawab langsung.



Pertanyaan pertama, siapa sih Tjong A Fie ini?

Yang saya tahu, beliau adalah seorang saudagar pendatang dari Cina yang kemudian menetap dan mengembangkan usahanya di Medan.  Dari penjelasan guide dan keterangan yang tertulis di ruangan pertama dalam Mansion, ternyata Tjong A Fie adalah lebih dari seorang saudagar.

Diawal kedatangannya ke Medan, Tjong A Fie merupakan kepala pekerja Cina pada perkebunan Belanda. Lama kelamaan dia berhasil membangun perkebunan, pabrik, bank dan hotel sehingga mampu memiliki bangunan dengan luas tanah 8.000 M2 dan bangunan seluas 6,000 m2 di tengah kota Medan. Foto-foto ukuran besar Tjong a Fie dan keluarganya dipajang dalam ruang informasi ini.  Saya harus menjelaskan pada si sulung kenapa orang-orang di foto tersebut mengenakan jubah panjang, bahkan sang Kepala Keluarga memanjangkan dan mengepang rambut panjangnya di bagian belakang kepalanya.

Menuju dapur dan ruang keluarga

Setelah ruangan informasi tadi, kami berjalan menuju dapur. Jangankan oven, kompor saja tidak ada. Yang ada hanya tungku panjang terbuat dari batu dengan empat tempat api yang harus diisi kayu bakar. Luas dapurnya saja sekitar 20m2. Maklum saja, selain karena memiliki 10 anak, Tjong A Fie yang sempat ditunjuk sebagai wakil Pemerintah Cina di Medan,  sering menerima tamu di rumahnya.

Setelah itu kami masuk ke ruang makan keluarga.  Walau terlihat kuno, tapi guide kami mengakui tidak semua barang di ruang makan keluarga asli peninggalan Tjong A Fie.  Dalam perjalanannya, beberapa barang dalam rumah ini terpaksa dijual untuk membiayai beban operasional rumah besar ini.  Saat sedang menilik sebagian piring keramik Cina kuno berwarna, anak saya mulai menarik narik baju saya sambil berbisik, “Ma, itu apa?” sambil menunjuk bak mandi kayu yang terletak di sebuah kamar di depan ruang makan tadi.  Guide kami pun langsung mengajak kami masuk ke kamar tersebut yang ternyata adalah kamar Ny. Tjong A Fie.

Koleksi baju mendiang Ny. Tjong A Fie berusia ratusan tahun

Seperti umumnya rumah pada jaman Cina kuno, dalam bangunan dengan 35 ruangan ini hanya ada 2 kamar mandi. Jadi aktivitas mandi, harus dilakukan di kamar dengan menggunakan bak mandi kuno tadi.  Selain itu di setiap kamar ditempatkan sebuah pispot.  Anak saya sih langsung melanjutkan dengan pertanyaan lain seputar mandi dan ke kamar mandi yang tentunya berbeda sekali dengan yang biasa dia pakai.  Baju-baju asli mendiang Ny. Tjong A Fie juga masih tersisa.  Anak saya yang kecil harus saya amankan karena ingin memegang manik-manik cantik pada baju tersebut. Hanya saja, baju-baju ini sudah berusia ratusan tahun, jadi saya takut sekali menyentuhnya. Sentuh sedikit benangnya saja nanti bisa koyak.



Tempat sembahyang dan abu leluhur keluarga

Dari kamar, kita menuju taman tengah.  Jadi kita memulai perjalanan dari samping menuju belakang lalu maju ke depan bangunan.  Di sekitar taman, terdapat tempat sembahyang, tempat abu leluhur keluarga Tjong a Fie.  Beberapa pengunjung lain yang beragama Buddha diperkenankan sembahayang di sana.

Bangunan ini memiliki beberapa ruang tamu yang didekorasi dan digunakan sesuai tamunya. Ada ruang Cina, pribumi dan Belanda.  Seperti juga di ruang makan keluarga, beberapa barang asli sudah terjual, bahkan ruang tamu ini terlihat agak kosong.  Sayang memang.  Kami pun naik ke lantai dua.  Beberapa ruangan di laintai ini belum terbuka untuk umum, tetap kami sempat melihat ruang dansa yang dikelilingi jendela besar dan tinggi.  Sebagian menghadap ke Jalan Kesawan. Di sayap kanan dari bangunan tersebut juga masih dihuni oleh keturunan Tjong a Fie sehingga area tersebut juga tertutup untuk umum.

Tip Top, salah satu restoran tua di Medan

Setelah berkeliling selama kurang lebih dua jam, kami mulai merasa lelah. Udara kota Medan yang panas terik benar-benar membuat kerongkongan kering.  Sekitar 20 meter dari Tjong A Fie Mansion terdapat salah satu restoran tua di Medan, Tip Top.  Bangunan Tip Top masih dipertahankan seperti jaman dulu ketika baru buka tahun 1934. Taplak meja kotak-kotak, meja bulat agak pendek, kursi-kursi setengah lingkaran terbuat dari kayu dan rotan serta lantai bermotif khas rumah Belanda mengisi interior restoran tersebut.  Tamu bisa memilih untuk duduk diluar berdekatan dengan jalur pejalan kaki atau di dalam.

Makanan yang ditawarkan di restoran ini adalah makanan jaman baheula (kuno) seperti Tounge Steak, Wienner Scintzel, Huzaren Salad, Bitterballen, juga masakan Cina dan Indonesia.

Saya memesan I fu mie goreng  siram, anak-anak memesan nasi goreng special Tip Top dan suami memesan nasi rames.  I fu mie saya terdiri dari mie kering dengan saus kental berisi telur, udang, kepiting, sayuran, dan ayam.  Saos yang panas membuat mie kering saya jadi lembek dan bisa dimakan walaupun kriuk kriuknya tidak sepenuhnya hilang.  Nasi goreng special datang dengan dua potong ayam goreng berbumbu yang rasanya agak manis, tetapi gurih dan garing. Sementara nasi rames suami datang dengan sambal ikan kakap, sayur nangka, dan keripik kentang pedas.



Walaupun kenyang, tapi rasanya belum komplit kalau duduk di Tip Top tanpa memesan es krim khasnya.  Saya memiih Wiener Café karena mata sudah mulai terasa berat sehingga sedikit bantuan kafein sepertinya sangat membantu.  Suami memesan Moorkop Ice, yaitu es krim Vanilla yang dilapisi pastry seperti kue sus yang dibungkus coklat.  Paduan antara rasa kulit sus, lapisan coklat dan es krim vanilla menjadi penutup mulut yang pas karena mengobati panas, tetapi tidak terlalu manis.

Harga makanan dan minuman di Tip Top tidak terlalu mahal.  I Fu Mie saya seharga Rp. 21,000, Nasi Goreng Rp. 28,000, dan Nasi Rames Rp. 18,000.  Es krim berkisar antara Rp. 9,000 sampai Rp.15,000an.  Anak-anak minta dibelikan kue tarcis kecil berisi cake mocha dilapisi cream mocha dan meisjes, serta sosjssbroed.  Harganya sekitar Rp. 4,000 – Rp. 7,000 per piece.

Hari sudah semakin siang dan anak-anak saya sudah lesu dan ngantuk.  Sepertinya sudah waktunya pulang, mempersiapkan diri untuk hari Senin. Sampai lain kali!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.