Mengikuti upacara Melaspas, Ritual Pembersih Rumah di Bali

0
8423

Berwisata dan menetap dalam waktu lama di tanah para dewa (Bali) memberi saya banyak pengalaman. Salah satunya adalah, pengalaman untuk berbaur dengan penduduk lokal dan merasakan adat dan budaya mereka secara langsung.

Salah satu kesempatan yang datang adalah saat melihat langsung proses upacara Melaspas, sebuah upacara Hindu Bali yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan bangunan yang baru selesai  dibangun atau ditempati. Memang kebetulan rumah dimana saya menginap (Nusa Dua, Beranda Mumbul) adalah rumah baru. Ah, merasa beruntung sangat.

Malam menjelang hari upacara, saya sudah diberitahukan untuk bisa bangun lebih awal karena upacara akan dimulai sekitar pukul 10.00 pagi . Ok, jadilah waktu untuk menikmati udara pantai Seminyak malam hari dipercepat untuk memenuhi amanah tersebut.

Dan selanjutnya … zzzzzz (pulas)

Tiba waktu pagi, sebuah mobil pickup kecil putih sudah parkir depan rumah, penuh sesajinan dan perangkat upacara. Ada pisang, jeruk, buah kelapa, telor, beras, kembang bahkan ayam, yang kesemuanya dipadukan dalam beberapa wadah ayaman. Personil upacara ada empat orang: Pedanda (Pendeta) bersama dua istrinya dan anaknya. Yang membuat saya angkat topi adalah, bagaimana lihainya mereka berempat, jalan dari Tanah Lot  (tempat mereka) ke Nusa Dua dengan sebuah Pickup kecil tersebut dan penuh dengan sesajen dan alat upacara. Sebagai catatan, sesajian tersebut tidak di-pack, jadi kemungkinan untuk tercecer bisa terjadi loh. Salute.

istri Pendeta mempersiapkan dan menyusun sesaji.

Ok, cukup dengan tercengang ria, waktu upacara sudah mau dimulai.

Beberapa sesaji diletakkan di jalan depan rumah dan yang lain di sudut-sudut halaman. Sisanya yang masih banyak disusun rapih di depan Pedanda. Peralatan upacara juga sudah siap dan Pedanda mulai pada posisinya untuk berdoa. Kedua istri Pedanda pun sudah siap bertugas sebagai asisten saat upacara berlangsung.

Sesaji sudah disusun rapih di depan Pendeta. Upacara Melaspas siap dimulai.

Upacara Melaspas berlangsung sekitar 30 menit. Walau saya tidak paham dengan bahasa Bali yang diucapkan Pedanda, tapi saat melihat upacara ini, mencium bau dupa, mendengar klentingan lonceng dan keheningan saat berdoa seperti membawa rasa tenang dan nyaman. Buat saya, ini indah.

Sebagai informasi, kegiatan  upacara ini diadakan agar orang yang akan menempati rumah tersebut merasa tentram, betah dan terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan (sakit, boros, marah, pertengkaran).

Selesai upacara Melaspas, Pedanda menawarkan saya untuk memakai beras kuning pada dahi. Tentu saja tawaran ini tidak saya tolak. Tapi terlebih dahulu saya diharuskan untuk memakai kain agar lutut / kaki tertutup. Ini sudah menjadi ketentuan adat dan kenyakinan, jadi untuk itu saya wajib mengikuti. Ternyata, beras kuning tidak serta merta dilekatkan pada dahi, namun sebelumnya ada semacam doa atau pemberkatan yang mengiringi. Buat saya, ini indah kedua di hari itu.

Kegiatan penutup adalah, menanam sesaji pada sudut rumah dan memasang ulap ulap pada rumah – saat itu di atas pagar (Ulap ulap ini akan tetap terpasang sampai beberapa hari ke depan). Setelah itu, saya dapat kesempatan untuk berbincang dengan Pedanda, menanyakan berbagai hal. Di sini juga saya baru tahu tentang jalannya prosesi ngaben (upacara kremasi) yang ternyata panjang. Saya juga dapat penjelasan mengapa budaya Bali bisa tetap bertahan dari serbuan arus budaya luar yang kuat. Nanti akan saya coba ceritakan pada judul lain.

Inilah penggalan kecil cerita saya saat mendapat kesempatan untuk menikmati keragaman budaya. Tulisan dan pengalaman ini hanya sebagai ekspresi kesukacitaan dan penghargaan saya terhadap budaya Hindu Bali. Jika ada banyak kekurangan, mohon dimaklumi dan jangan disalah-artikan ya :)

 

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.