Situs Sekitar Bororbudur

1
4154

Ada thesis yang mengatakan bahwa candi Borobudur dulunya berada di tengah danau. Argumentasi untuk menguatkan pendapat ini antara lain adanya peninggalan perahu, dan nama-nama desa di sekitar candi yang berkonotasi dengan air.

Dalam perjalanan menuju dusun Tutup Ngisor (selanjutnya disebut Tutup, seperti warga desa sendiri sering menyebutnya seperti itu) untuk melihat acara Suran, yaitu acara yang sudah rutin dilakukan oleh masyarakat lereng gunung Merapi ini sejak 1937, sebuah ritual tolak bala untuk keselamatan warga, dan juga pesta seni rakyat, saya sempatkan melihat-lihat situs-situs candi dan artefak yang ternyata banyak sekali. Bisa dikatakan berserakan menyebar, pating tlecek, istilah jawanya, karena tidak sedikit yang utuh berbentuk walau ukurannya tidak gigantik seperti Borobudur, tapi banyak juga yang tinggal reruntuhan berupa batu-batu berserakan. Dan, ini hanya sambil jalan dari Muntilan ke Babadan, pos pengamatan Merapi itu, dan sedikit naik ke arah Ketep.

Ada candi Asu yang didekatnya mengalir sungai Tlingsing di hamparan lahan yang subur menghijau royo-royo. Dari jalan utama desa, candi Asu terlihat jelas, hanya 20 meter dipisahkan oleh sawah. Tinggi candi mungkin hanya 10 meter. Tidak terlampau besar namun relatif tampak utuh. Melewati pematang dan sedikit masuk, ada candi Pendem. Asu di sini bukan berarti anjing dalam bahasa jawa, tapi, katanya ngaso, istirahat, sementara Pendem berarti tertanam. Memang Pendhem tidak terlalu utuh. Tidak jauh dari situ terdapat candi Ngawen yang katanya dibangun abad ke-8 masehi. Saya coba sedikit menganalisa, mengira-ngira, dan teringat perkembangan beberapa kota dunia bahwa sebuah peradaban biasanya bermula di dekat mata air atau sungai. Betapa sungai menjadi sangat penting bagi kehidupan, bahkan sampai sekarang.

Candi Asu yang berarti Ngaso atau Istirahat
Candi Asu yang berarti Ngaso atau Istirahat
Candi Pendem
Candi Pendem yang berarti tertanam

Candi-candi ini, dan juga tentunya masih banyak berserak di Jawa Tengah dan Jogja yang keberadaanya mudah dijangkau, menyebabkan rawan sekali untuk dimutilasi, dijarah oleh “kolektor” partikelir jahat tidak mempunyai kesadaran sekaligus penghormatan pada nilai sejarah budaya bangsa yang mengambil secara diam-diam tanpa izin. Bentuk eksotisme patung dan artefak candi-candi, mampu menggoyahkan “iman” orang untuk memindahkan ke ruang-ruang di rumah, untuk mengoleksinya, atau untuk sekadar kepentingan finansial pribadi, apalagi tidak ada aturan dan sanksi yang jelas, selain tidak adanya perhatian yang “lebih baik” dari pemerintah, atau pihak2 yang seharusnya mengurusi ini. Mungkin juga mereka hanya peduli pada Candi Borobudur yang didanai dari luar negeri dan kadung jadi perhatian seluruh dunia…?

Dalam acara Suran Tutup Ngisor yang tidak seperti banyak dilakukan daerah lain yang banyak melakukan kegiatan dikaitkan dengan tahun baru penanggalan lunar, seperti hijriah atau muharam seperti tahun baru Islam, warga Tutup merayakannya pada tanggal 13, 14 dan 15, yang kali ini jatuh bersamaan dengan tgl 10, 11, dan 12 januari 2009, saya sempatkan ngobrol-ngobrol dengan tokoh penggerak kesenian dusun Tutup, mas Sitras Anjelin, anak bungsu Romo Yoso (+) leluhur masyarakat Tutup. Katanya, di desa sebelah ada candi yang kalau muncul (karena mungkin tergerus aliran sungai) akan membuat sakit seluruh warga. Legenda candi ini menjadi seperti misterius. Di bukit tidak jauh dari desa, yaitu gunung Gono, ada situs berupa patung Ganesha yang sudah tidak utuh, karena itu Gono, nama bukit, atau gunung bagi penduduk Tutup asalnya dari Ganesha. Dan kita tahu, setiap patung Ganesha selalu dikelilingi oleh empat patung lainnya (sorry, saya lupa siapa saja) di setiap empat sudutnya yang masing-masing berjarak cukup jauh.

Gunung Gono
Gunung Gono
Fragmen Arca Ganesha
Fragmen Arca Ganesha
Arca Ganesha yang hanya tersisa bagian perut dan kaki
Arca Ganesha yang hanya tersisa bagian perut dan kaki

Yang menarik, di dekat Babadan baru saja ditemukan, perkiraan dari titik pusat dari suatu candi dan dinding luar-nya yang kalau ditarik garis, diameternya melebihi Borbudur. Kalau ada pekerjaan ekskavasi dan penelitian arkeologi tentunya menjadi pekerjaan yang maha dahsyat dengan konsekwensi-konsekwensi yang tidak kecil, seperti relokasi desa-desa, perusakan ekologi dan tatanan sosio kultural masyarakat, belum lagi risiko seperti yang baru saja terjadi di Trowulan Majapahit.

Sebelum saya kembali ke Jakarta kemarin, bersama kawan saya diajak ke pengurus desa Borobudur, pak Lurah dan mas Jack, penggerak masyarakat dalam arti susungguhnya, karena dia pernah melakukan demo menentang cara kerja PT Taman Nasional Borobudur itu, seperti preman. Mas Jack ini beristrikan seorang wanita Swedia. Dua anaknya cantik dan ganteng yang mungkin kalau dilihat Raam Punjabi akan diajak bermain dalam sinetron produksinya. Mungkin juga karena beristrikan ekspat, dia cukup punya wawasan dan kesadaran ruang serta berpikir metodologis, tapi yang pasti dia lahir dan besar di desa Borobudur ini sehingga cukup mengusai medan.

Mas Jack mencatat, katanya riset, yang saya istilahkan menelusiri ginekologi sebuah desa yaitu mencoba merekonstruksi sejarah dan kehidupan Borobudur pada awal berdiri dari nama-nama desa dan artefak atau situs-situs yang ada sekarang. Yang dia lakukan seperti merangkai sebuah puzzle. Sekarang ini ada nama desa Jogonegoro, yang bisa dipadankan dengan militer atau polisi jaman sekarang, Tirtonegoro, seperti perusahaan air minum, PAM mungkin. Ada juga desa Tanjung, seperti dermaga tempat kapal ditambatkan. Katanya di bukut Menoreh, di satu titik, ada situs yang diduga sebagai tanda awal orang melakukan ritual atau prosesi bila ingin ke Borobudur, di titik lainnya setelah melakukan trek di bukit Menoreh, turun ke desa tanjung itu dengan menggunakan kapal, dan ada desa namanya Kapalan.

Bentuk Borobudur sendiri, jika dilihat dari ketinggian akan seperti bunga Lotus yang sedang mekar di tengah air danau…Mas Jack juga mencatat desa-desa yang berkonotasi dengan alat-alat musik karena ada temuan-temuan alat musik juga. Mungkin juga dia terlalu bersemangat ketika berbicara tentang daerahnya dan apa yang telah dia lakukan, tapi mungkin para sejarawan atau dunia akademi perlu juga mempertimbangkan local genius seperti mas Jack ini dengan kemudian melakukan riset yang lebih mendalam.

Ada juga hipotesa yang menarik dari mas Jack ini yang datangnya dari kecurigaan betapa gunung Tidar yang katanya ada sumber mata air hutan dan gua yang keramat, dibuat steril oleh pihak militer, karena selain memang masuk di lingkungan Akademi Militer, dia menduga di situlah pusat kerajaan atau pusat pemerintahan jaman awal Borobudur didirikan. Dan di situ sarat dengan dunia mistik. “karena itu, semua pemimpin Indonesia pernah ke gunung Tidar itu, coba saja sebut, Suharto, SBY, Wiranto, Prabowo”, katanya lagi…

Gunung Tidar
Gunung Tidar

Foto : Google

 

1 COMMENT

  1. beberapa situs dan lokasi kekayaan alam memang mungkin banyak kebaikannya bila dilingkupi oleh kekuatan militer seperti bukit tidar di magelang, jawa tengah.
    militer di negeri ini sepertinya termasuk superbody yang memiliki kekuatan hebat yang tiada instansi apa sanggup menembus bahkan mengaudit secara wajar sebagaimana yang lain.
    tentu saja semua hal mengandung positif dan negatif.
    semoga saja sisi negatif sebagaimana dilakukan beberapa oknumnya yang mengkomersilkan kekayaan bangsa yang semestinya memberikan maslahat besar bagi masyarakat umum lebih dapat diantisipasi demi perlindungan kepada kekayaan alam dan budaya bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.